EDISI NOVEMBER: Tahun Baru, semangat Baru!!!

Senin, 17 Oktober 2011


Resolusi Perubahan Tahun Masehi dan Hijriah

Momentum tahun baru 2010 Masehi dan 1432 Hijriah kali ini berdekatan sekali. Perhitungan kedua tahun tentu saja berbeda. Tradisi Masehi menggunakan perhitungan matahari, sedangkan hijriah menggunakan perhitungan bulan. Keduanya juga awalnya mewakili sistem sosial-politik yang berbeda. Jika Masehi merupakan perhitungan yang ditetapkan kekuasaan Romawi yang kristiani, hijriah dideklarasikan oleh kekuasaan khalifah Umar bin Khatthab yang islami.
Bagi bangsa Indonesia, keduanya sudah sangat melekat kuat dalam kehidupan sehari-hari. Hanya, tradisi Masehi kini dianggap sebagai perhitungan masa yang sekuler. Asal-muasal perwujudannya tidak terkait atau bahkan dilupakan begitu saja, termasuk oleh kaum muslim. Di sisi lain, tradisi hijriah melekat erat karena umat muslim Indonesia ialah mayoritas. Hari-hari besar keagamaan Islam ditentukan melalui perhitungan tahun ini. Cuma, tradisi hijriah seolah menjadi khas Islam saja. Hal itu tidak terlepas dari konteks sosial-politik peradaban yang saat ini berjaya yakni Barat. Sekularisasi telah membuat tradisi agama, termasuk perhitungan tahun, membias menjadi sesuatu yang bisa diterima sebagai gejala umum. Terlebih dengan imperialisasi dan globalisasi Barat, tradisi Masehi mengalami objektivikasi yang bisa diterima sebagai titi mangsa. Mungkin itu saja yang membedakan Masehi lebih mendunia melintas batas identitas yang beragam ketimbang hijriah.
Bagi bangsa kita dan juga bangsa lain, fakta bahwa perayaan tahun baru Masehi lebih meriah tidak bisa disangkal. Umat muslim pun menikmatinya, bahkan lazimnya perayaan hijriah tidak demikian. Akan tetapi, benang merah yang ingin saya ulur ialah saat ini kita hidup di era yang kosmopolit. Siapa pun tidak bisa mengelak dari kecenderungan itu. Kedua perhitungan tahun tersebut adalah contoh konkret yang mengakrabi kehidupan kita. Belum lagi kalau kita tambahkan dengan perhitungan lain, seperti Imlek dan Jawa. Tradisi perhitungan masa bukan saja terkait bahwa kita menghargai waktu sesuai dengan metodenya masing-masing, melainkan juga tentang apresiasi yang mendalam pada identitas yang majemuk. Karena itu, kita mesti menyukurinya sebagai sebuah berkah yang membuat diri kita bermakna, baik tentang masa maupun tentang kedalaman manusia.
Apa titik temu yang ingin kita capai? Ternyata, terdapat pelajaran yang penting mengenai pengertian kedua tradisi Masehi dan hijriah. Baik ‘Masehi’ maupun ‘Hijriah’ identik dengan perubahan. Secara etimologis, jika kita mengacu pada bahasa Arab, ‘Masehi’ selain merupakan adjektiva dari al-Masih atau kristiani, mengandung pengertian ‘mesiah’ yakni yang dinantikan dan penyelamat. Sementara itu, hijriah ialah adjektiva dari hijrah yang merupakan peristiwa besar yang menentukan kemajuan peradaban muslim yakni migrasi dari Mekah ke Yatsrib atau Madinah. Hijrah tidak saja bermakna fisikal atau migrasi, tetapi juga memiliki makna yang mengacu pada pengertian transformasi, reformasi, dan perpindahan.
Khusus mengenai peristiwa hijrah yang fenomenal itu, deklarasi Nabi Muhammad mengubah Yatsrib ke Madinah al-Nabi ialah deklarasi yang transformatif. Cak Nur sering menjelaskan hal itu dengan baik sebagai pembentukan masyarakat madani. Madinah merupakan kota, polis, oikumene yang mempunyai akar kata yang derivasinya identik dengan hadlarah atau tamaddunyang berarti peradaban. Di sinilah kemudian lahir Piagam Madinah yang menaungi pluralisme di antara keragaman penduduk Madinah saat itu. Itulah deklarasi kemerdekaan yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan peradaban yang multikultural. Dari konteks tersebut, maksud Umar bin Khatthab menetapkan tahun hijriah sangat tepat.
Jadi, antara mesiah dan transformasi memiliki arus yang sama untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Menelusuri keyakinan Kristen dan Islam sebagai dua cabang dari tiga agama semitik atau Abrahamik semakin memperjelas titik temu teologis. Baik Yahudi, Kristen, ataupun Islam sama-sama menjadi agama apokaliptik yang memercayai hari akhir dan munculnya mahdi, mesiah, juru penyelamat, pertolongan, dan keselamatan akhir. Bahkan, iman apokaliptik menjadi rukun yang sangat inheren. Maka wajar apabila dalam perkembangan sejarah agama semitik, kepercayaan ini memunculkan harapan yang besar akan kebenaran dan keselamatan melalui beragam spekulasi teologis yang melahirkan banyak mazhab atau sekte.
Hanya saja, aspek mistik yang negatif dari teologi apokaliptik ini harus dikritik. Baik dalam wujudnya yang berupa kultisme maupun fundamentalisme. Kultisme, yang mengultuskan imam atau pemimpin sekte agama beserta ajarannya yang ketat dan disiplin, memercayai perubahan secara semu. Belakangan ini, beberapa sekte agama yang lahir dari agama Islam dan Kristen sempat muncul di Indonesia. Untung saja, hal itu belum mengambil bentuknya yang menyebar kematian seperti terjadi di Jepang atau Amerika. Adapun fundamentalisme menawarkan kesemuan dengan memaksakan kemutlakan dalam beragama sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar, kalau perlu menggunakan kekerasan. Fenomena yang terakhir ini sudah mulai berkembang biak dewasa ini.
Sisi apokaliptik yang mengarahkan praksis yang sebetulnya menjual ilusi tersebut harus dipikirkan ulang demi kelangsungan kebaikan dan ajaran agama yang humanis. Umat manusia memang tidak bisa terhindar dari cara beragama yang membutuhkan utopia apokaliptik dengan menunggu kehadiran sang ratu adil sebagai mesiah, tetapi perwujudan itu harus dihindari yang dekat dengan delusi sejarah, destruksi, dan menyakiti diri sendiri untuk sesuatu yang belum tentu benar, seperti ekstremnya dalam bentuk teror atau bom bunuh diri yang dianggap jihad. Dalam tradisi Masehi, setiap 1.000 tahun, satu milenium, dianggap akan ada perubahan yang diyakini akan datang sang juru selamat. Dalam Islam, setiap 100 tahun dianggap akan datang pembaru agama yang meluruskan kebenaran. Bahkan jika ditambahkan dengan Yahudi, mereka selalu menantikan juru selamat datang dengan berusaha merebut tanah yang dijanjikan di Yerusalem sehingga tidak acuh lagi dengan rencana saat ini untuk menghancurkan al-Quds menjadi ‘kuil ketiga’ yang dipercaya akan memunculkan mahdi menjelang hari akhir.
Kepercayaan itu mesti dibangun kembali ke arah ajaran yang lebih bermutu dan transformatif. Bayangkanlah, apabila setiap diri umat beragama terlena oleh penantian sang mahdi, fungsi manusia sebagai khalifah di bumi tiada dan hanya bersandar pada sesuatu yang berada di luar dirinya. Tujuan-tujuan pembangunan peradaban akhirnya berupa tindakan-tindakan yang anakronis, menyalahi sejarah itu sendiri dan tidak realistis. Oleh karena itu, yang berperan sebagai penyelamat adalah diri sendiri, bukan yang lain. Setiap diri adalah mesiah-mesiah yang mampu mengubah dunia ini dengan kreatif.
Selain itu, Allah mengajarkan manusia untuk menjadi juru damai di muka bumi. Karena itu, tidak dibenarkan mewujudkan perubahan demi agama, sedangkan mengelak kebersamaan dengan umat yang lain. Kebersamaan adalah fitrah kemajemukan. Untuk mewujudkan amal yang sesuai dengan spirit kemajuan, entah dari tradisi Masehi ataupun hijriah, yang diperlukan ialah titik temu, bukan titik tengkar. Kebutuhan mencapai titik temu sudah menjadi imperatif teologis. Jika setiap diri adalah makhluk Tuhan yang Mahakreatif, alasan apa untuk menolak bersikap humanis? Selamat tahun baru Masehi dan hijriah, kasih dan rahmat untuk semua.

Benarkah 1 Januari Tahun Baru ?



Dalam bertahun baru menurut penanggalan musim atau Solar Year yang umumnya disebut tahun Masehi, mereka tidak memiliki dasar dan bukti. Jika penanggalan itu benar-benar cocok dengan pergantian musim yang menjadi dasar penyusunannya, maka permulaan tahun atau tahun barunya bukanlah pada 1 Januari' tetapi 23 Desember yaitu tanggal permulaan Surya tampak bergerak dari Tropic of Capricorn di belahan selatan Bumi ke arah Tropic of Cancer di belahan utara.
Jika orang melihat Surya condong ke utara atau ke selatan sewaktu terbit dan terbenamnya, maka itu hanyalah tersebab gerakan zigzag dari Bumi ketika berkitar mengelilingi Surya. Kejadian yang dilihat ialah sebagai berikut:
Pada tanggal 21 Maret, Surya tepat berada di atas garis ekuator sambil bergerak ke arah utara, dan tanggal 21 Juni Surya mencapai titik 23 1/2 derajat dari ekuator, titik pada garis keliling yang dinamakan dengan Tropic of Cancer. Ketika itu berlaku siang terpanjang di belahan utara, sebaliknya malam terpanjang di belahan selatan. Dari tanggal 21 Juni Surya mulai bergerak kembali ke arah ekuator dan tepat berada di atas garis ekuator pada tanggal 21 September.
Pada tanggal 22 September Surya terus bergerak dari garis ekuator ke arah selatan dan sampai di garis yang dinamakan Tropic of Capricorn yaitu pada titik 23 1/2 derajat dari ekuator keliling Bumi. Ketika itu tercatat tanggal 22 Desember waktu mana berlaku siang terpanjang di belahan selatan dan malam terpanjang di belahan utara. Selanjutnya Surya bergerak kembali ke arah ekuator Bumi dan sampai pada tanggal 20 Maret untuk pergantian musim selanjutnya.
Penanggalan yang benar adalah penanggalan Lunar Year atau Qamariah sesuai dengan petunjuk dan keridhaan ALLAH. Tahun Baru di mulai dari 1 Muharam
Dalam Alquran, tahun penanggalan yang berhubungan dengan orbit Bulan keliling Bumi dan orbit Bumi keliling Surya dinamakan dengan SANAH yang kini disebut tahun Qamariah, sementara yang berhubungan dengan musim dinamakan dengan ‘AAM yang kini disebut tahun Syamsiah atau Solar Year.

Tahun Qamariah atau Lunar Year yang menjadi dasar penanggalan Hijriah adalah tahun yang panjang waktunya tidak pernah berkurang. Ini dapat difahami jika orang sudi memperhatikan sejarah dan keadaannya:

1. Orbit Bumi keliling Surya bukanlah berupa lingkaran bundar karena lingkaran begini akan menggambarkan jarak Bumi dari Surya selalu sama sepanjang tahun, padahal pengukuran dengan sistem parallax menyatakan ada kalanya Bumi sejauh 90 juta mil dari Surya dan ada kalanya sejarak 94 juta mil. Sekiranya orbit bundar itu terlaksana maka Bumi akan kekurangan daya layangnya keliling Surya, dan aktifitas Sunspot di permukaan Surya tetap stabil, bersamaan, padahal perubahan aktifitas itu selalu ada karena ditimbulkan oleh tarikan Surya pada planet-planet yang kadang-kadang mendekat dan kadang-kadang menjauh.
2. Orbit Bumi keliling Surya bukan pula berupa lingkaran elips atau lonjong karena lingkaran begini akan membentuk dua titik perihelion dan dua titik aphelion orbit. Jika ini memang berlaku maka susunan Tatasurya akan kacau balau dengan akibat yang susah diramalkan. Dan dengan pemikiran logis, orbit demikian dapat dikatakan tidak mungkin terjadi dalam tarik-menariknya Surya dengan Bumi, karena setiap kali Bumi berada pada titik perihelion orbitnya, dia harus tertarik untuk membelokkan arah layangnya ke kiri beberapa derajat mendekati Surya yang dikitari.
3. Orbit berbentuk lingkaran OVAL adalah satu-satunya yang dilakukan Bumi, memiliki satu perihelion yaitu titik di mana Bumi paling dekat pada Surya sembari melayang cepat, dan satu titik aphelion yaitu titik terjauh dari Surya waktu mana Bumi melayang lambat. Dengan orbit OVAL begini terwujudlah daya layang berkelanjutan menurut ketentuan ALLAH, begitu pun jarak relatif antara 90 juta mil, dan aktifitas Sunspots yang berubah sepanjang tahun untuk mewujudkan perubahan cuaca di muka Bumi.
Lingkaran oval berbentuk telur di mana ada bujur besar dengan titik aphelion, dan bujur kecil dengan titik perihelion. Sewaktu Bumi berada pada titik perihelion ini, tarik-menariknya sangat kuat dengan Surya hingga ketika itu gelombang laut tampak lebih besar daripada biasanya, dan mulailah penanggalan Muharram selaku bulan pertama Lunar Year. Karena keadaan Bumi serius sekali, melayang cepat dan paling dekat dari Surya, lalu dinyatakan Muharram selaku bulan terlarang yaitu Syahrul Haraam yang sering pula diartikan dengan “Bulan Mulia.”
Kemudian itu Bumi mulai melayang lambat dan paling lambat sewaktu berada di titik aphelion yaitu bulan betujuh, maka bulan Rajab itu pun dinamakan bulan terlarang karena Bumi ketika itu paling jauh dari Surya dalam keadaan serius. Pada tanggal 27 bulan itu dulunya Muhammad dimi’rajkan ALLAH dari Bumi ke planet Muntaha.
Setelah itu Bumi mulai pula melayang cepat karena ditarik oleh Surya hingga mencapai bulan kesebelas dan lebih cepat pada bulan kedua belas, yaitu bulan Zulkaedah dan Zulhijah, semakin dekat pada Surya, lalu kedua bulan itu juga dinamakan bulan terlarang karena nyatanya Bumi dalam keadaan serius. Pada tanggal 29 Zulhijah, Bumi telah menyelesaikan satu orbitnya 345 derajat Surya, yaitu satu tahun Lunar Year.

Itulah sebabnya kenapa Muharram, Rajab, Zulkaedah, dan Zulhijah dinamakan empat bulan terlarang, pada bulan-bulan itu Bumi sedang mengalami tarikan kuat dari Surya dan juga mengalami tarikan lemah hingga manusia Bumi bagaikan diberi peringatan tentang planet yang didiami terutama mereka yang mengetahui hisaab atau perhitungan nasib diri. Namun keadaannya mengandung ilmu astronomi yang harus dipelajari setiap diri. Dalam pada itu Rabi’ul Awwal waktu mana Muhammad lahir dan meninggal dunia, begitu pun Ramadhan selaku bulan turunnya Alquran, keduanya tidak dinyatakan bulan terlarang, karenanya teranglah Islam tidak mengandung kultus individu. Alquran tidak memberikan data tentang hari kelahiran Ibrahim dan Muhammad walaupun yang pertama dinyatakan IMAM bagi manusia dan pendiri Ka’bah, dan yang keduanya dinyatakan penyampaian Alquran dan Nabi terakhir.
Satu kali orbit Bumi keliling Surya bukan 360 derajat tetapi 345 derajat dilaluinya selama 354 hari 8 jam 48 menit dan 36 detik. Dalam satu bulan Qamariah, Bumi bergerak sejauh 28˚ 45’ atau dalam satu hari sejauh 0derajat 58’ 28’’,4.
Perlu dicatat bahwa Bulan mengorbit keliling Bumi sejauh 331˚ 15’, selama 29 hari 12 jam 44,04 menit. Dia bergerak dalam satu hari sejauh 11˚ 12’. Jadi keliling 360˚ - 331˚ 15’ = 28˚ 45’ kalau dikalikan 12 bulan Qamariah maka satu tahun Islam adalah 354 hari 8 jam 48 menit dan 36 detik atau 345 derajat gerak edar Bumi keliling Surya.
Untuk mengitari Surya 360 derajat keliling, maka Bumi memakai waktu selama 370 hari. Dalam pada itu satu tahun musim pada abad 20 Masehi dijalani Bumi sejauh 355˚ 12’ selama 365 hari 6 jam. Hal ini dapat dibuktikan dengan terlambatnya bintang-bintang di angkasa pada waktu tertentu yang sama setiap tahunnya sejauh 4˚ 48’.
Jadi menurut tahun musim atau Solar Year, maka Bumi bergerak keliling Surya sejauh 355˚ 12’ yaitu 4˚ 48’ sebelum mencapai titik lingkaran penuh, hingga 360˚ - 355˚ 12’ = 4˚ 48’ jika dikalikan dengan 75 tahun musim menjadi 360˚ barulah Bumi berada pada posisi pertama selaku awal tahunnya. Ketika itu bintang-bintang di angkasa mungkin berada kembali pada posisi tertentu pada waktu bersamaan dengan 75 tahun yang lampau, karena Bumi sendiri bukan berada pada titik perihelion orbit semula.


                         Keutamaan dan Amalan di Bulan Muharram

Patut disyukuri bahwa Allah SWT menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya melalui pergantian waktu yang begitu konsisten dan berkesinambungan. Diantara hikmah yang dapat dipetik dari keagungan ciptaan Allah itu adalah diciptakannya siang dan malam, hari ke hari, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun yang kesemuanya akan memberi makna bagi perjalanan hidup manusia.
Sebagaimana Firman Allah Ta`ala: “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu. Dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah kami tegakkan dengan jelas.”  (Al-Isra: 12)
Sungguh besar karunia Allah yang telah diberikan kepada hamba-Nya, selain menjadikan matahari sebagai titik tolak dalam mengetahui pergantian musim dalam setiap tahunnya. Juga dijadikannya bulan sebagai perhitungan waktu di mana Allah menjadikan setiap tahun berisi 12 bulan.
Firman Allah: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (At-Taubah: 36)
Diantara kedua belas bulan yang kita kenal seperti diterangkan dalam ayat ini, yaitu Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’uts Tsani, Jumadil Awwal, Jumadi Ats-Tsani, Rajab, Sya’ban, Ramadlan, Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Adapun yang dimaksud dengan empat bulan haram adalah Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram.
Sejarah Tahun Baru Islam
Pola penghitungan bulan dan tahun dalam Islam dibuktikan dengan adanya perintah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam kepada shahabatnya untuk melihat hilal dalam menentukan bulan Ramadlan dan Syawal. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, beliau mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya maka berbukalah. Namun bila mendung menghalangi kalian, perkiraan baginya.” (HR. Muttafaqun `alaihi)
Sedangkan awal penentuan tahun Islami, dimulai pada jaman khalifah Amirul Mukminin Umar bin Khattab radliyallahu `anhu beliau mengumpulkan para ahli untuk membicarakan darimana dimulainya tahun Islami. Hal ini terjadi kurang lebih pada 16 H atau 17 H. maka sempat muncul berbagai pendapat, di antaranya: 1) Dihitung dari kelahiran Rasulullah. 2) Dihitung dari kematian beliau. 3) Dihitung dari hijrahnya beliau. 4) Dihitung sejak kerasulan beliau.
Berbagai pendapat itu kemudian disimpulkan dan diputuskan oleh Amirul Mukminin bahwa dimulainya perhitungan tahun Islami adalah dari hijrahnya Rasulullah SAW karena sejak disyariatkannya hijrah, Allah Ta`ala memilah antara yang haq dan yang bathil. Pada waktu itu pula awal pendirian negara Islam.
Agaknya perdebatan kembali muncul, setelah ditentukannya awal perhitungan tahun Islam. Silang pendapat untuk menentukan bulan apa yang dipakai sebagai pemula tahun baru lalu mencuat. Berbagai pependapat lalu dilontarkan, ada yang usul Rabi’ul Awwal karena di waktu itu dimulai perintah hijrah dari Makkah ke Madinah. Usul lain memilih bulan Ramadlan karena di bulan itu diturunkannya Al-Qur’an.
Perdebatan kemudian berakhir setelah sebagian besar dari kalangan shahabat seperti Umar, Utsman dan Ali radliyallahu `anhum `ajma`in sepakat bahwa tahun baru Islami dimulai dari bulan Muharram. Kenapa? Alasannya pada bulan itu banyak hal-hal atau aktifitas yang diharamkan di antaranya tidak boleh mengadakan peperangan. Kecuali dalam keadaan diserang maka diperbolehkan melawannya.
Sebagaimana firman Allah: “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan; dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah:191)
Mengapa dikatakan Muharram sebagai bulan haram? Didasarkan pada ayat lain dimana Allah juga berfirman: “Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah berserta orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 194)
Istilah lain yang berkembang kemudian, berdasarkan kalender yang menyebar tertulis istilah Muharram ini dengan As-syura. Darimanakah kata ini mula-mula diambil? Berbagai pendapat lalu muncul, sebagian besar berpendapat kata Asyura berasal dari kata Asyir yang artinya kesepuluh (hari kesepuluh di bulan Muharram).
Dari Ibnu Abbas radliyallahu `anhuma bahwasanya ”Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam puasa di hari Asyura (kesepuluh) dan beliau memerintahkan untuk berpuasa padanya.” (HR. Bukhari 4 / 214, Muslim 1130, Abu Dawud 2444)
Dari Abu Hurairah radliyallahu `anhu, dia berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: “Puasa yang paling utama setelah ramadlan adalah bulan Muharram dan shalat yang paling utama setelah shalat fardlu adalah shalat malam.” (HR. Muslim 3 / 169, Abu Dawud 2429, Tirmidzi 1 / 143, Ad-Darimi 2 / 21, Ibnu Majah 1742, Al-Baihaqi 4 / 291, Ahmad 2 / 303)
Dari Abu Qatadah Al-Anshari radliyallahu `anhu bahwa beliau Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam ditanya tentang puasa di hari Asyura, maka beliau menjawab: “Menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang lalu.” (HR. Muslim 1162) Dan dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Puasa Asyura aku harapkan agar menghapus dosa-dosa tahun yang lalu.” (HR. Muslim 3 / 167, Abu Dawud 2425, Al-Baihaqi 4 / 286, Ahmad  5 / 295)
Amalan di Bulan Muharram
Keutamaan berpuasa di bulan Muharram oleh para ulama telah disepakati, namun terdapat silang pendapat di antara mereka tentang hukum dan waktunya. Ada sebagian pendapat yang mengatakan wajib, tetapi jumhur ulama berpendapat hukumnya adalah sunnah. Demikian pula tentang waktunya mereka bersilang pendapat. Di antara pendapat-pendapat tersebut adalah:
  • Hari yang kesepuluh saja. Berdasarkan dlahir hadits-hadits yang telah lewat penyebutannya.
  • Hari kesembilan dan kesepuluh. Berdasarkan penggabungan dua hadits yang insya Allah akan datang uraiannya.
  • Hari yang kesembilan dan kesepuluh atau hari yang kesepuluh dan kesebelas, berdasarkan dalil-dalil yang menerangkan diwajibkannya untuk menyelisihi Ahlul Kitab.
  • Hari yang kesembilan saja. Berdasarkan hadits-hadits Ibnu Abbas radliyallahu `anhuma bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh jika aku masih hidup hingga tahun mendatang, aku akan berpuasa di hari yang kesembilan.” (HR. Muslim 1134)
Diantara pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat kedua yang menyatakan disyariatkannya puasa di bulan Muharram di hari yang kesembilan dan kesepuluh. Pendapat ini yang dianut kebanyakan para ulama, seperti: Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Ibnul Qayyim dan lain-lain dari selain mereka. Hal ini berdasarkan pemaduan hadits-hadits yang dlahirnya Rasulullah melakukan puasa di hari kesepuluh sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan Abu Qatadah yang telah lewat, dengan hadits yang dlahirnya bahwa beliau berniat untuk berpuasa di hari yang kesembilan sebagaimana hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Sementara di antara keutamaan lain yang terkandung di bulan Muharram adalah sebagai berikut: Dosa yang dilakukan pada bulan-bulan yang dimuliakan tersebut lebih dahsyat dari bulan-bulan selainnya. Dan begitu juga sebaliknya bahwa pahala amal shalih begitu besar dibandingkan bulan-bulan lainnya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, artinya: “Janganlah kalian mendzalimi diri-diri kalian di dalamnya -bulan-bulan tersebut- (QS. at-Taubah: 36)
Berkata Ibnu Katsir: “Di bulan-bulan yang Allah tetapkan di dalam setahun kemudian Allah khususkan dari bulan-bulan tersebut empat bulan, yang Allah menjadikan sebagai bulan-bulan yang mulia dan mengagungkan kemulyaaannya, dan menetapkan perbuatan dosa di dalamnya sangat besar, begitu pula dengan amal shalih pahalanya begitu besar.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada QS. at-Taubah:36)
Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulan Muharram, khususnya berpuasa pada tanggal 10 Muharram (puasa ‘Asyura).
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah al-Muharram.” (HR. Muslim) dan di dalam hadits yang lain beliau juga bersabda, “Puasa ‘Asyura menghapus kesalahan setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim).
Ibnu Abbas berkata. “Tidaklah aku melihat Rasulullah lebih menjaga puasa pada hari yang diutamakannya dari hari yang lain kecuali hari ini, yaitu ‘Asyura.” (Shahih at-Targhib wa at-Tarhib).
Sedangkan diantara amalan yang dianjurkan dalam bulan Muharram adalah sebagai berikut: Tidak berbuat dzalim pada bulan ini, baik yang kecil maupun yang besar. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “…maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu.” (QS. at-Taubah: 36)
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, Takutlah kalian terhadap kedhaliman, karena sesungguhnya kedhaliman itu merupakan kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim dan lainnya)
Dalam hadits yang lain beliau bersabda, Tidak ada dari satu dosapun yang lebih pantas untuk dicepatkan siksanya dari pelaku dosa itu baik di dunia maupun di akhirat daripada melewati batas (kedhaliman) dan memutus silaturrahim.  (ash-Shahihah, no. 915).
Demikian tulisan yang bisa kami sajikan dan disarikan dari berbagai sumber. Semoga Allah SWT memberikan karunia dan rahmat kepada kita sehingga tergolong sebagai orang-orang yang bertaqwa, beriman dan bersyukur yang semata-mata mengharapkan ridha Allah dengan memberikan ampunan dan pahala yang besar.


Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Baru Islam (Hijriyah)


Beberapa hari lagi kita akan memasuki tahun baru Islam, yaitu tahun 1431 Hijriyah. Meskipun banyak dari sebagian kita umat Islam yang memandang 'biasa-biasa saja' tahun baru Islam ini namun sesungguhnya saat pergantian tahun baru Islamlah saat yang paling tepat untuk memulai sebuah resolusi baru.
'Resolusi baru', seperti itulah ungkapan yang banyak diucapkan oleh sebagian saudara-saudara kita saat mereka merayakan pergantian tahun baru Masehi. Namun sebenarnya momen yang tepat untuk memulai resolusi baru adalah ketika pergantian tahun baru Islam. Mengapa?
Untuk menjawab pertanyaan di atas kita akan melihat sekilas jauh ke belakang tentang asal muasal dimulainya perhitungan tahun/kalendar Islam (hijriyah). Ketika itu khalifah Umar bin Khattab ra. setelah berunding dengan beberapa penasihatnya akhirnya memutuskan untuk menggunakan tahun dimana Rasulullah Saw. berhijrah dari Mekah ke Madinah sebagai awal permulaan perhitungan kalendar Islam. Momentum hijrah Rasulullah Saw. dianggap mewakili 'era baru', karena bukan halnya saat itu Rasulullah berhasil meloloskan diri dari kota Mekkah yang sudah tidak kondusif lagi bagi perkembangan dakwah beliau namun juga keputusannya untuk berhijrah ke Madinah membawa pelita terang bagi kebangkitan Islam sehingga beliau berhasil membangun pondasi mental dan spiritual bagi umat Islam yang terasa sampai sekarang ini.
Para shalihin mengajarkan kita untuk berdoa ketika menjelang pergantian tahun. Dan dibawah ini adalah doa akhir tahun dan awal tahun yang lafadznya cukup terkenal karena banyak terdapat di buku-buku doa.
Doa Akhir Tahun
Bacalah doa ini tiga kali saat menjelang akhir tahun baru Islam, bisa dilakukan sesudah ashar atau sebelum maghrib pada tanggal 29 atau 30 Dzulhijah. Dengan doa ini kita memohon ketika kita akan mengakhiri perjalanan tahun yang akan ditinggalkan ini akan mendapatkan ampunan dari Allah Swt. atas perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh-Nya, dan apabila dalam tahun yang akan ditinggalkannya itu ada perbuatan-perbuatan yang diridhai oleh Allah Swt yang kita kerjakan, maka mohonlah agar amal shaleh tersebut diterima oleh Allah Swt.
وَصَلَّى الله ُعَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ، اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِيْ هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِيْ عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْأَتِيْ عَلَى مَعْصِيَّتِكَ ، فَإِنِّيْ أَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْ لِيْ . وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ ، فَأَسْئَلُكَ اللَّهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّيْ وَلاَ تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW,beserta para keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang kami belum bertaubat, padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya, dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat. Karena itu ya Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu.
Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, semoga berkenan menerima amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.
Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad, Nabi yang Ummi dan ke atas keluarga dan sahabatnya.


Doa Awal Tahun
Bacalah doa ini tiga kali saat kita memasuki tanggal 1 Muharam. Bisa dilakukan selepas maghrib atau pun sesudahnya. Dengan doa ini kita sebagai Mu'min memohon kepada Allah Swt. agar dalam memasuki tahun baru ini kita dapat meningkatkan amal kebajikan dan ketaqwaan.
  وَصَلَّى الله ُعَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ اْلأَوَّلُ، وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ نَسْئَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَآئِهِ وَجُنُوْدِهِ، وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ اْلأَمَّـارَةُ بِالسُّوْءِ وَاْلإِسْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَ اْلإِكْرَامِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى الله ُعَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصَحْابِهِ وَسَلَّمَ. آمين

Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.
Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung.
Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan,agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, Nabi yang ummi dan ke atas para keluarga dan sahabatnya.


Edisi oktober: Pahlawan

Selasa, 11 Januari 2011




Mengingat Perjuangan Pahlawan Bangsa


Hari ini, berpuluh-puluh tahun yang lalu, sekelompok pemuda Indonesia dengan gagah berani, menyingsingkan lengan baju, bahu membahu, melawan para penjajah yang ditunggangi oleh Belanda melalui NICA dengan membonceng sekutu-nya, yang ingin menguasai kembali Indonesia setelah beberapa bulan memproklamirkan kemeredekaan. Saat itu tentara sekutu yang dipimpinInggris sesumbar hanya butuh 3 hari untuk meluluhlantakan Surabaya (yang menjadi medan pertempuran) dan membuat pasukan Indonesia menyerah, namun sekali lagi ketekunan dan kegigihan dengan semangat juang yang tinggi membuat tentara sekutu harus berusaha lebih dari sebulan untuk menguasai pertempuran. Pertempuran di Surabya membuahkan perlawanan rakyat lainnya di Jakarta, Bogor, Bandung, dan daerah lain di Indonesia. Hingga 4 tahun kemudian belanda mengakui kekalahannya dan menyatakan pengakuan kedaulatan Negara kesatuan republic Indonesia.. Sungguh sebuah usaha yang amat heroik dari para pemuda Indonesia waktu itu..!!

Kini setelah 65 tahun peristiwa tersebut yang kemudian dikenal dengan Hari Pahlawan 10 November 1945, masih adakah di Indonesia pemuda – pemuda Indonesia yang memiliki semangat juang seperti yang dilakukan para pejuang dan pahlawan kita waktu itu? Masih tercolekkah rasa emosional kebangsaan kita, ketika ada rekan-rekan sebagnsa yang diperlakukan tidak adil, yanghidup miskin, yang masih dijajah dengan penjajahan model baru seperti ideology dan cara hidup bangsa lain yang seringkita dapat dari berbagai media, masih pedulikah kita akan nasib masa depan Indonesia? Masih adakah keprihatinan kita melihat saat ini sudah banyak terbangun tembok-tembok suku, agama, ras dan golongan? Dimanakah kepedulian kita?

Bangsa yang tidak memiliki pahlawan adalah sebuah bangsa tanpa kebanggaan. The Founding Father Indonesia mengatakan bagsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para Pahlawannya. Karena itu kita yang mau disebut bangsa besar diberikankesempatan menghargai jasa para Pahlawannya dengan apa yang mampu kita buat sekarang. Belajar, berkarya dan berjuang mengentaskan kemiskinan, kemalasan dan kebodohan, memberantas akhlak yang bobrok, korupsi, kolusi dan sifat mementingkan diri sendiri.

Pahlawan menjadi sangat penting karena telah memberikan ragam inspirasi. Inspirasi yang luar biasa untuk memberikan semangat kepada generasi muda memperbaiki dan membangun kondisi negera kesatuan Republik Indonesia. Agar Indonesia menjadi bangsa yang dihormati dan disegani di kawasannya.

Dengan tidak panjang lebar,  Mathriq mengundang rekan-rekan perjuangan muda dan berjiwa muda untuk kembali mengenang perjuangan tanpa pamrih yang dilakukan para pemuda-pemuda pejuang dijaman kemerdekaan republik ini, dan biarlah  kemerdekaan yang telah direbut oleh para pahlawa menginspirasi kita sebagai pemuda-pemuda zaman sekarang untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dan membangun sebuah bangsa yang besar dimulai dari diri kita sendiri.

Maju terus, jangan gentar, ayo tunjukkan kepedulian kita untuk Indonesia yang lebih baik.


Para Korban (HAM) Menolak Pengangkatan Soeharto sebagai Pahlawan

Para korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) Talangsari, Lampung, menolak keras pencalonan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan menurut mereka akan melukai hati para korban.

"Kalau sampai pemerintah mengangkat Soeharto sebagai pahlawan, itu artinya menyakiti hati kami. Berarti sudah tidak ada lagi keadilan," ujar Azwar Kaili, salah satu korban Talangsari.
Menurut Azwar, saat menjabat sebagai presiden, banyak kasus pelanggaran HAM yang diduga melibatkan Soeharto. Ia mengutarakan, untuk tragedi Talangsari saja, banyak orang yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang.

Ia berharap agar orang-orang yang hilang bisa segera diketahui keberadaannya. "Saya sudah menyampaikan kepada presiden bahwa kami menolak pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan waktu saya bertemu presiden beberapa waktu lalu di Istana," ungkapnya.

Edi Arsadat, korban Talangsari lainnya, menjelaskan, perkumpulan korban Talangsari telah melayangkan surat kepada Presiden SBY. Surat tersebut berisi penolakan korban Talangsari mengenai pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan.

Edi menganggap pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan akan menghilangkan tanggung jawab Soeharto terhadap peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi pada masanya menjabat sebagai presiden. "Kalau Soeharto diangkat pahlawan, maka kasusnya akan diputihkan," tukasnya.

Edi pun meminta pemerintah untuk lebih berkonsentrasi terhadap penyelesaian kasus- kasus pelanggaran HAM berat, termasuk Talangsari yang kini mandek di Kejaksaan Agung. "Kalau proses hukum sudah selesai, baru bicara tentang wacana pencalonan Soeharto sebagai pahlawan," tandasnya.

Nani Nurani, salah satu korban pelanggaran ketika Soeharto berkuasa, sakit hati mendengar kabar Soeharto dicalonkan mendapat gelar pahlawan nasional. "Jantung saya sakit rasanya. Berarti bukti bahwa policy pemerintahan SBY itu arahnya ke mana sudah ketahuan. Stigmatisasi sampai hari ini belum selesai, kok tiba-tiba Soehartonya mau jadi pahlawan. Hebat sekali ya. Kita itu bayar uang sampai sekarang. Dia seakan baik ya membangun. Tapi duitnya kan masuk ke kantong kantong anaknya juga kan. Itu menyakitkan kok saya kira. Pak SBY mudah-mudahan anda mendengarkan dan polisi anda jangan menyakiti kami rakyat kecil." 
 
Meski sakit hati, Nani mempersilakan Soeharto dijadikan pahlawan. Syaratnya seluruh kasus dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan Soeharto dibongkar tuntas.


Pak Mahmud: Kepala Sekolah Nyambi Pemulung

Mahmud yang ditemui di tempat pembuangan akhir sementara tepat di belakang rumahnya, saat itu mengenakan kaus oblong lengan panjang berwarna hitam dan celana selutut dengan warna senada. Dilengkapi pula oleh topi kupluk berwarna abu-abu. Di tengah kesibukan ia mempersilahkan saya menyambangi rumahnya. Kami pun masuk ke rumah berbentuk kotak dari bambu dan kayu lapis persis di dekat tumpukan sampah, “ladangnya” memulung. Yang membuat tertegun ialah, Mahmud ternyata seorang guru, bahkan tiga tahun terakhir menduduki jabatan Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Safinatul Husna di kawasan Pangadengan, Kalideres, Jakarta Barat.

Cinta Mengajar
Mahmud kecil ialah anak seorang nelayan dan penjaga tambak di bilangan Muara Angke, Jakarta Utara. Ketika memasuki usia remaja, ia sudah tertarik menjadi seorang guru. Keinginan itu dibarengi dengan masuknya ia di Pendidikan Guru Agama (setingkat sekolah menengah pertama). Mahmud bersama tujuh saudaranya hidup jauh dari berkecukupan, tak urung ia pun bersekolah seraya menggembala kerbau agar bisa membantu biaya sekolah. “Saat itu saya sudah senang sekali, bisa sekolah sekaligus membantu orangtua,” ujarnya menerawang.

Pada 1980, ia menyelesaikan sekolahnya di Madrasah Aliyah (MA). Keberuntungan pun menghampiri bapak kelahiran 17 Maret 1960 ini, ia didapuk menjadi guru. Karena tekun menjalankan pekerjaannya, tak lama kemudian ia diangkat menjadi guru tetap dan mengampu mata pelajaran Aqidah Ahlak, Fiqih, dan Bahasa Arab. Demi mengembangkan bidang ilmu lain, Mahmud tak ayal belajar otodidak untuk mata pelajaran Matematika dan IPA, serta bekal melanjutkan ke Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI jurusan Matematika. “Saya nggak mengejar soal materi, tapi kecintaan saya pada anak-anak,” tambah Mahmud yang mengajar selama 30 tahun ini.

Yayasan yang mengelola sekolah tempat Mahmud mengajar terbilang lumayan besar dan membawahi sekolah MTs setingkat SMP dan madarasah ibtidaiyah (MI) setingkat SD. Untuk Madrasah Tsanawiyah MTs saja memiliki ratusan siswa dengan 17 guru dan seorang staf.Kendati memimpin sekolah yang terbilang besar dan sudah menjadi guru sejak 1979, kehidupan keluarga tiga anak ini jauh dari layak. “Orang kadang-kadang tidak percaya, penghasilan saya tidak bisa mencukupi,” ujar Mahmud.

Bapak asal Jakarta ini mengajar tidak tanggung-tanggung sampai enam mata pelajaran karena tenaga pengajar susah sekali dicari. Mayoritas mereka berpikir ulang untuk mengajar karena masalah penghasilan. “Meski menjadi kepala sekolah, saya tetap mengajar, tapi porsinya berkurang dan jika ada guru yang tidak masuk,” ujarnya. Kalau sudah berhadapan dengan anak-anak, lanjut Mahmud, rasanya lega sekali. Banyak sekali kesan yang membekas di benaknya. Yang membuatnya prihatin dan tak tega selama mengabdi ialah acapkali tahun ajaran baru, banyak orangtua yang mengeluh lantaran harus membayar biaya sekolah. “Mendengar mereka menangis, rasanya jadi dilema. Kalau anak tak membayar sekolah, bagaimana dengan guru-guru yang mengajar, darimana mereka mendapat penghasilan,” tutur suami dari Ibu Jumiyati ini.
Kini, ia tengah memasuki masa pensiun tapi tetap ingin mengabdi dalam bidang pendidikan. Bentuknya dengan membuka semacam tempat belajar bagi anak-anak di rumah. “Mengajar di pendidikan formal kan ada batasnya, tapi di luar itu kita tetap bisa mengabdi,” ujarnya antusias.

Memulung Karena Kondisi
 
Berpijak dari penghasilan sekecil itu, akhirnya Mahmud mencari penghasilan tambahan. Apalagi tahun 2000, lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat mulai padat. Semakin bertambahnya warga, otomatis timbunan sampah juga menggunung. Lantaran itulah timbul inisiatif Mahmud untuk mencari penghasilan tambahan dengan menjadi pemulung.
Ia memulung sampah-sampah yang masih bernilai ekonomi dari tempat pembuangan sampah sementara. Pagi sampai siang, pukul 06.30 hingga pukul 14.00, dia mengajar mata pelajaran mulai dari Agama, Matematika, Biologi, hingga Fisika dan mengorganisasi guru-guru beserta stafnya. Sedangkan sore hingga malam dia memulung.
alasanya memulung lantaran dipicu oleh kebutuhan rumah tangga yang mulai merangkak naik ketika anak-anak masuk sekolah. Awalnya berbagai usaha telah dilakoninya, mulai dari beternak, berkebun sampai sekarang ini memulung. “Jujur, awalnya saya tidak tertarik, karena aroma yang ditimbulkan dari sampah membuat saya pusing bahkan tidak bisa makan. Tapi, karena didorong rasa penasaran saya akhirnya mulai memulung,” ujar bapak yang memiliki motto “hidup harus bermanfaat bagi orang lain” ini.

Sebenarnya, lanjut Mahmud, bicara soal cukup atau tidak sifatnya relatif. Tetapi, ia merasakan sekarang ini hampir semua kebutuhan meningkat, bahkan air bersih saja sekarang harus beli, karena air sungai sudah tercemar limbah rumah tangga dan pabrik. Jika hanya mengandalkan penghasilan dari sekolah, semua pengeluaran tidak bisa tertutupi. “Saya percaya Tuhan sudah memberikan rezeki masing-masing bagi umat-Nya, kita tinggal berusaha untuk bekerja lebih keras,” harapnya optimis.

Tak Resah dengan Citra Pemulung
 
Mahmud tak lupa bercerita perihal pengalamannya pertama kali bersentuhan menjadi pemulung. Banyak pro dan kontra yang ditujukan padanya.Tapi yang paling membuatnya miris ia dituduh mencemarkan citra guru. “Apakah salah jika seorang guru berusaha sampingan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi pekerjaan saya halal dan tidak merugikan orang lain. Saya menyadari jika profesi guru dan pekerjaan pemulung memang sangat kontras,” selorohnya prihatin.

Selama ini, tambah Mahmud, citra pemulung di mata masyarakat memang kurang baik. Tidak sedikit ditemukan pemulung yang bertindak merugikan, misalnya mencuri sendal atau barang lain. “Meski begitu, saya tidak merasa tersinggung sedikit pun, yang penting apa yang saya lakukan tidak merugikan dan menyusahkan orang lain,” ujar bapak dua putri dan satu putra ini. Menyikapi anggapan mereka, Mahmud hanya mengatakan “ya itu hak mereka, tokh pada akhirnya secara tidak langsung pekerjaan memulung juga sedikit banyak punya manfaat, khususnya untuk mengurangi sampah di sekitar tempat tinggal mereka”.




Visitors

google search